Asshohwah Qur'an Boarding School (AQBS) Target Lahirkan Hafidz Yang "Komplit"

Rabu, 22 Maret 2017


Menjadi seorang Hafizul Qur’an tentu menjadi impian bagi setiap muslim. Menjadi penghafal Al Qur’an adalah keistimewaan serta kemuliaan bagi seorang muslim di hadapan Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Saking istimewanya,oleh Allah SWT,seorang hafizul Qur’an bahkan diberi gelar sebagai keluarga Allah.
Kepsek Ponpes AAI Akhyar Rosidi S.Sos.I
Bagaimana jika seorang hafizul Qur’ah adalah seorang yang juga mahir di bidang ilmu yang lain. Tentu akan lebih istimewa lagi jika banyak bermunculan para penghafal Qur’an yang menguasai atau tidak tertinggal disiplin ilmu lainnya, seperti ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK),Sains,ilmu Ekonomi serta disiplin ilmu lainnya.
Tentu akan sangat membanggakan jika banyak para penghafal Al Qur’an yang expert bahasa asing, seperti Bahasa Inggris,bahasa Arab, bahasa Jepang. Atau mungkin bahkan para ahli dan pakar Matematika,sains serta professor yang hafal Al Qur’an mulai bermunculan menghiasi dinamika kehidupan modern.
Hal inilah yang coba diwujudkan dan diikhtiarkan oleh Pondok Pesantren (Ponpes)Asshohwah Al Islamiyah (AAI) Biletepung. Ditengah tantangan zaman yang semakin ketat, dampak globalisasi yang menggerus hampir seluruh aspek kehidupan, diketahui begitu berdampak terhadap pola pikir dan pola hidup umat Islam saat ini, tak terkecuali pada pola dan doktrin pendidikan modern.
Mewujudkan generasi penghafal Qur’an di era globalisasi tentu tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Meski demikian, seperti kata pepatah,“dimana ada kemauan disitu ada jalan”.
Mewujudkan generasi muda penghafal Qur’an, sekaligus muslim yang jago atau tidak tertinggal bidang yang lain, adalah salah satu visi Ponpes Asshohwah Al Islamiyah, yang akan coba diwujudkan melalui salah satu program pembinaan Qur’an “Asshohwah Qur’an Boarding School (AQBS)”.
AQBS adalah wahana dan metode yang disiapkan Ponpes Asshohwah untuk mewujudkan visi mulia dimaksud. Ponpes Asshohwah sejak dini memang dihajatkan untuk menelurkan generasi muda Islam yang yang tidak hanya mahir dan mumpuni dalam ilmu pengetahuan, tapi juga tengah disiapkan untuk melahirkan para penghafal Qur’an yang “komplit”, dengan kata lain menjadi ahlul Qur’an yang menguasai berbagai hal/bidang.    
“Mewujudkan pesantren yang tidak hanya cinta terhadap ilmu pengetahuan, tapi juga bisa melahirkan para penghafal Al Qur’an, dengan banyaknya orang yang menghafal Qur’an sekaligus menguasai ilmu-ilmu lain, maka itu akan lebih baik dan sempurna lagi,” jelas Kepala SMP IT  Asshohwah AlIslamiyah Akhyar Rosidi S.Sos.I kepada Asshohwah media.
Melalui AQBS, santri diharapkan akan lebih mudah dalam menghafal Qur’an ditengah kesibukannya bergelut dengan aktifitas belajar atau kegiatan belajar reguler. Akhyar Rosidi mengatakan, disinilah poin dan kelebihan program AQBS yang tengah digalakkan pondok pesantren AAI. Menurutnya, akan ada pembagian dan menejemen waktu yang tepat serta proporsional antara belajar dan menghafal Al Qur’an dalam pelaksanaannya.
"Sehingga para santri akan menjadi lebih fokus dalam mengejar keinginannya untuk menghafal Qur’an, mengingat lewat program AQBS para santri akan mendapat ruang dan bimbingan khusus  dalam menghafal Qur’an, sehingga mereka tidak tertinggal dengan tugas belajar mereka secara reguler di sekolah, ujar Akhyar Rosidi.
Ponpes Assohwah sendiri lanjutnnya sangat menghargai hajat para santri dan walinya, terkait tujuan para santri bersekolah di ponpes Asshohwah. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar para santri yang menimba ilmu di SMP IT Asshohwah Al Islamiyah memproyeksikan diri menjadi seorang Hafizul Qur’an. Tapi tak sedikit juga yang menghajatkan diri agar mahir dalam khazanah keilmuan lain.

"Oleh karenanya, kita disini juga fokus terhadap pembinaan program-program unggulan lain seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, disamping mereka menghafal Qur’an," ujar Kasek.

Adapun para santri yang terlibat aktif dalam program ini sebelumnya telah melalui seleksi cukup ketat. Kenapa tidak semua santri harus dilibatkan dalam program ini?. Hal ini menurut Akhyar karena tidak semua santri yang berminat dan memenuhi syarat program AQBS. Banyak diantara santri yang punya kemauan tetapi lemah dalam kemampuan menghafal, demikan sebaliknya tidak sedikit santri yang kuat dan punya potensi dalam menghafal tapi kurang mendapat bimbingan serta kesempatan mengembangkan dan menyalurkan potensi tersebut.

Oleh karena itu, diputuskan untuk tahun ajaran ini, dari  tujuh puluh santri yang telah mendaftar dan mengikuti seleksi masuk AQBS, hanya dua puluh santri yang terjaring dan  dan berhak mengikuti program AQBS. Selain harus melalui berbagai jenis test, para peserta juga dituntut memiliki komitmen kuat dalam meraih tujuan sebagai seorang hafizul Qur'an, sebagai syarat lain untuk mengikuti program ini.

Dalam
AQBS, santri ditargetkan bisa menghatamkan sepuluh juz hapalan Qur'an dalam satu tahun, sehingga mereka (santri AQBS,red) diproyeksikan bisa hatam tiga puluh juz dalam rentang waktu tiga tahun.

“Satu hari minimal santri bisa hatam satu lembar dalam satu harinya, sehingga dalam rentang waktu satu tahun diharapkan bisa menghatamkan sepuluh juz, dengan demikian setelah tiga tahun dapat hatam tiga puluh juz,” harapnya.
Dengan demikian, setelah tiga tahun berjalan jika para santri melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya disekolah yang sama, mereka dapat melanjutkan program AQBS dan tetap fokus untuk tahap muraja'ah atau mengulang hapalan.
Ada banyak keuntungan dan reward bagi para santri yang berpartisipasi dalam program ini. Tentunya reward yang paling tama menurut kasek, adalah penghargaan dari Allah SWT  berupa keutamaan dan kemuliaan, serta pahala berikut derajat tinggi seperti dijanjikan. 

Namun dari pihak sekolah sendiri telah menyiapkan beberapa penghargaan bagi para santri yang sukses mengikuti program ini, diantaranya berkesempatan mendapatkan beasiswa melanjutkan studi baik didalam maupun luar negeri, serta mengikuti ajang lomba tahfizul Qur’an berhadiah jutaan rupiah, yang diselenggarakan pihak sekolah secara berkala setiap tahun. (*)


 



Maret 22, 2017

0 komentar:

Posting Komentar